Pergilah…

Pergilah sejauh kau mau…
Pergilah…
Karena hadirmu t’lah cukup untuk ku.
Kau hanya perlu waktu untuk merenungkan pikiranmu. Kau hanya perlu waktu untuk menemukan tujuanmu.
Aku hanyalah batu loncatan bagimu, saat kau ingin melompat lebih tinggi.
Dan bila nanti kita bertemu kembali, aku harap kau sudah menemukan apa yang kau cari.
Good luck, see you at the top…

Advertisements

Jakarta, 17 Mei 2013 (23.34 WIB)

Nada mengalun indah disini, angin berhembus membelai imaji, rintik hujan jadikan makin sunyi, cahaya redup kuatkan khayalan tentang satu masa, masa dimana aku akan menyakitimu.
Dan itu pasti…!!!

Sayup-sayup terdengar jeritan hati, jeritan akan ketakutan yang pasti terjadi, air mata meyakinkan bahwa aku akan menyakitimu saat aku menikah nanti.

Ini bukan lagi cerita tentang bulan dan matahari.
Ini bukan lagi cerita tentang samudra dipagi hari.
Ini bukan lagi cerita tentang pencarian hati.
Ini bukan lagi cerita tentang labuhan cinta sejati.
Ini cerita tentang rasa, rasaku, rasamu.

Mama…

Cerita Nula #1

Terjebak dalam lingkaran hitam dengan perasaan mendalam. Tanpa kata, hanya memandang dan saling melempar senyum, begitulah awalnya. Kemudian terlajin komunikasi melalui tulisan tanpa pesan, dan berlanjut. Mulai ada rayuan cinta gaya anak muda, berbalas dan bermakna. Bertemu dan terbentuklah kita. Cinta datang siapa duga, hadirnya membuat bahagia, meskipun ada cinta lain yang tertimpa. Nikmati saja, siapa tahu disinilah adanya labuhan cinta.

Sabtu itu, kusiapkan segelas susu coklat hangat dan dua rangkap roti gandum dengan selai strawberry sebagai menu sarapanmu. Sederhana bukan, begitulah cinta. Sehari kita bersama, ada nyata, ada suara, ada cerita, ada nada, ada cinta. Ingatkah kamu pada cerita tentang kereta?! Aku tertawa, ketika membayangkan kamu saat bercerita. Itu adalah sabtu pertama dan terakhir kita bersama. Setelahnya kita tidak lagi berjumpa. Tidakkah rindu itu bergemuruh dalam hatimu?! Kita itu indah, tapi mengapa memilih untuk berpisah?!

Aku tersiksa karenamu. Aku mencintaimu, aku merindukanmu, tapi aku harus menjauh darimu. Apa ini mau mu?! Aku tidak mampu berlari untuk menjauh darimu, ini diluar kendaliku.
Hey sepertinya kamu merasakan sesuatu, rindukah itu?! Kalau memang begitu, mengapa kita tidak bertemu?! Mengapa kita memilih diam dan tersiksa dalam rasa yang sama?! Mungkinkah kita ini pendusta yang enggan mengakui rasa?!

Kita ini sesungguhnya apa?! Mengapa ada rasa? Mengapa ada cinta? Mengapa tidak bersama?! Mengapa berdusta?! Tanyakan saja pada hatinya, akan ada jawabannya saat kita tidak lagi jadi pendusta.

Mencintaimu dari kejauhan, menjaga rasa, menjaga cinta, tersiksa. Harapan adalah alasanku bertahan, masih adakah harapan itu?! Ataukah aku harus berhenti, sedangkan aku tahu saat aku berherti semua akan mati.

Malam bagiku adalah waktu untuk mengingatmu, mengenang kebersamaan diawal musim penghujan, hingga aku terlelap dalam bayangan. Saat ku buka mata, berharap hangatnya surya menyapaku dari celah jendela. Tapi pagi itu surya malu-malu, timbul tenggelam, bersembunyi dibalik awan sisa hujan semalam. Tapi itu cukup bagiku, karena aku tahu surya menghangatkan hatiku, meskipun sesungguhnya aku rindu bertemu.

Ini adalah sabtu ke 16 sejak kita bertemu terakhir kali. Dan berulang kali kamu katakan malam minggumu kelabu, lalu mengapa kamu tidak datang padaku dan kita buat malam yang baru. Kita ini lucu, untuk apa menahan rasa, untuk apa menahan rindu, bila kita tahu sama tahu bahwa sesungguhnya kita ini satu.

Dikacaukan oleh satu rasa yang sama. Ada apa dengan kita?! Mengapa sesulit itu untuk mengungkap cinta.

Siang tadi surya ada, bersinar, lalu meredup di kala senja. Malamnya bulan purnama bercahaya tapi sekarang ia hilang bersembunyi dibalik awan hitam kelam. Dan rintik hujan datang setelahnya.

Kini kita berjalan bersama, di ruang berbeda, mengejar cita, dan menjaga cinta. Malam ini bulan purnama menyapa dari balik jendela. Datanglah, cahaya itu yang akan menuntunmu kepadaku. Bertemu, bersatu.

Ada suaramu di ujung telepon itu. Nyaris seperti tak ada perpisahan, tak ada pertengkaran. Masih hangat, masih ada rasa, masih ada tawa dan canda itu, dan mungkin masih ada cinta.

Tapi biarlah begini…
Seperti surya yang hangatkan dunia, seperti rembulan yang terangi jiwa. Tak perlu berlebihan, cukup merasa, karena itu membuat bahagia dengan cara kita. Jadi jangan pernah menghindari rasa…
Aku menyapamu lewat kata, dengan rasa, menuliskannya dalam secarik kertas, yang kulipat seperti pesawat lalu kuterbangkan. Dan angin ini akan membawanya padamu.

Di minggu ke 17, masih namamu yang aku cari di list contact BBM ku. Hanya untuk tahu bahwa kamu ada, dan kamu baik-baik saja tanpaku. Beberapa kali aku melihat nama lain di hatimu. Tapi sudahlah itu bukan menjadi fokusku. Meski aku terluka.

Semakin banyak yang aku tahu tentangmu, nyatanya membuat aku semakin tidak tahu apapun tentangmu. Apakah lebih baik tidak tahu apapun tentangmu?! Tapi aku tak mau.

Mungkin bukan warna favoritmu. Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan membutuhkan aku untuk melengkapi warna di hidupmu.

Akhirnya kamu berani menghubungi aku lebih dahulu, aku tahu kamu rindu hanya saja kamu malu untuk mengakui itu. Ternyata kamu tidak sekuat yang aku tahu. Kamu pun dapat menyerah karna rindu.

Hujan turun siang tadi, menutupi sinar mentari hari ini. Dan sehabisnya tak ada pelangi, mungkin ia muncul dilain sisi dunia ini. Mungkin di sudut kota mu ia bersembunyi sehingga aku tak dapat nikmati indahnya pelangi sore ini.

Siang tadi kamu beri aku berita. Kamu akan pergi jauh di luar Jawa di ujung Indonesia dan berjuang disana. Tak jelas rasa, tak jelas rupa, aku terluka (lagi). Aku tidak ingin kita terpisah lebih jauh lagi dari ini. Tapi mendengar suaramu, sepertinya kamu bahagia. Baiklah aku terima, semoga terpisah jarak dan fisik itu akan baik untuk kita.

Sampai kita di minggu ke 19. Kamu pintar bermain dengan perasaan. Kamu pintar bermain dengan tulisan. Kadang aku merasa kamu rindu, kadang aku merasa dibutuhkan, kadang aku merasa diperhatikan, kadang aku merasa kamu ada, kadang aku merasa kamu cinta. Tapi ternyata itu hanya perasaanku yang kamu rekayasa lewat kata-kata mesra. Aku beri kamu rasa, kamu beri aku dusta. Aku beri kamu cinta, kamu beri aku asa.

Aku mulai terbiasa dengan rasa sakit yang kamu beri. Rasa sakit karena merindumu. Rasa sakit karena harapanku. Rasa sakit karena mencintaimu. Rasa sakit karena tak terbalas olehmu. Mungkin kamu buta,
sampai tidak bisa lihat cinta yang aku punya.

Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan, dan Tuhan memisahkan kita bukan tanpa tujuan.

Dan cerita ini sampai disini…

: : NULA : :

Persembahan untuk mama #Finalis 25 terbaik Lomba Menulis Surat untuk Mama (Hari Ibu 2012)

Mama…

 

Ma… Lihat aku, putri kecilmu yang mama lahirkan 25 tahun yang lalu, kini sudah beranjak menjadi wanita dewasa, yang sedang belajar untuk dapat memiliki hati sekuat tengbaja seperti mama.

Ma… Inikah yang mama maksud?! Bahwa hidup tak selalu mudah untuk dijalani, bahwa hidup sejatinya adalah memberi?! aku mulai pahami itu ma. Aku disini sendiri, menuntut ilmu di universitas kehidupan (katanya), mencari jati diri dan terkadang mencari pembenaran atas apa yang aku lakukan.

Aku selalu ingat yang mama katakan “Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, baik atau buruk, lalukanlah. Tetapi setiap kamu selesai melakukan hal yang kamu mau, pikirkan lagi benar atau salah yang kamu lakukan”. Ma… Disini aku banyak belajar hal baru, disini aku tahu apa itu kebebasan, disini aku tahu ada banyak kebohongan, kepalsuan, sandiwara dan mereka menyebut itu biasa.

Ma… Mungkin dulu aku masih terlalu kecil untuk dapat memahami betapa sulitnya hidup yang mama jalani, atau mungkin aku memang tidak peduli. Sedangkan mama terus tersenyum, menutupi kekosongan dan sakit hati, terlalu arif dan hanya tinggal pasrah. Tapi kini aku tahu, dari balik senyum mama ada gambaran hati yang terluka. Maafkan aku…

Percayalah ma… seperti apapun yang mereka katakan tentang mama, bagiku mama adalah ibu terhebat yang aku miliki. Mama adalah tempat aku kembali disaat aku tinggi ataupun aku jatuh nanti. Hanya pada hatimu ma aku bersimpuh, dan pada hidupmu aku mengabdi.

Terimakasih ma… Mama berhasil mengajarkan arti hidup untukku, kini aku tahu bahwa hidup bagiku adalah perjuangan, hidup bagiku artinya memperjuangan apa yang seharusnya menjadi milikku, dan itu akan ku persembahkan untuk Mama…

 

Selamat hari ibu ma, dan ini janjiku…

#26

Hatiku ini adalah barang pecah belah, jadi jaga baik-baik ya…

#25

Hei kamu buta y…?!Sampai tak bisa lihat cinta yang ku punya

#24

Tak ingin ku lukai hatimu sedikit pun, ku jaga, ku tata, agar kau bahagia, tapi mengapa kau selalu beri aku luka…?!